Berita


Informasi

Taman Baca Klug: Kenalkan Budaya dan Potensi Lokal

06 Nov 2019

Taman Baca Klug merancang sebuah taman bacaan masyarakat yang menawarkan berbagai kegiatan menarik yang jauh dari kata membosankan. Kegiatan itu berakar dari potensi dan budaya masyarakat Purwakarta.

Saung mungil itu menyempil di pojok sebuah rumah berpagar hijau. Berada tak jauh kolam ikan, saung yang terbuat dari bambu itu terlihat mencolok. Pohon sawo yang rindang, memayunginya dari terik matahari siang.

Di dalam saung, sebuah papan tulis kecil berwarna putih tergantung pada bambu. Di kiri kanannya diapit poster. Poster kiri berjudul Produk Lokal Purwakarta menampilkan makanan dan kerajinan khas Purwakarta, seperti simping, sate maranggi, colenak, gula Cikeris, manisan pala, wayang, menong, dan gerabah Plered. Sedangkan poster kanan berisi tentang Tempat Wisata di Purwakarta, di antaranya Gunung Bongkok, Jatiluhur, Curug Pamoyanan, Taman Sribaduga, Taman Maya Datar, Pendopo, Gerabah Plered, Situ Wanayasa, Gunung Parang, Kampung Tajur, Giri Tirta, dan Bale Panyawangan.

Taman Baca Klug

Satu rak buku lima kolom berwarna ungu muda tergantung di bagian pojok kiri saung. Di dekatnya, tertempel larangan membuang sampah, hihid (kipas yang terbuat dari bambu), hiasan bunga artifisial, dan tata cara peminjaman serta peraturan yang diberi bingkai. Buku-buku yang lain dijajarkan di atas kayu di bawah papan tulis sehingga bisa tetap diraih meski sambil duduk. Menengok ke bagian langit-langit, ada dua buah lampu yang salah satunya dinaungi cetok.

Selain menerapkan unsur tradisional Sunda, Klug juga mengaplikasikan aspek daur ulang. Sebuah ban yang dicat ulang dengan cat warna ungu dapat digunakan sebagai meja. Ban itu terletak di dekat meja kecil berbahan kayu yang menjadi hunian berbagai benda, ada buku untuk keperluan data, pengeras suara, kalender, juga hiasan, seperti tanaman hias dan ikan hias.

Taman Baca Klug

Bagi anak-anak di Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, saung itu menjadi salah satu alasan bagi mereka untuk mendatangi rumah tersebut. Mereka datang ke saung itu bukan untuk berteduh. Di saung itu, sepulang sekolah atau saat libur, anak-anak bisa leluasa membaca buku dan menikmati berbagai kegiatan edukasi lainnya yang tak kalah menyenangkan. Kegiatan itu bisa mereka ikuti semenjak Dian Handayani, sang empu rumah menjadikan saung itu sebagai Taman Bacaan Masyarakat, pada 4 Desember 2016.

Dian yang tercatat sebagai mahasiswi sastra Jerman Universitas Indonesia ini menamai TBM-nya dengan sebutan Taman Baca Klug. Menurut Dian, nama Klug diambil dari bahasa Jerman yang berarti cerdas.

Dian merintis TBM Klug bersama kawan-kawan kampusnya, Alpiadi Prawiraningrat dan Jaya Wina. Salah satu alasan Dian mendirikan Taman Bacaan ternyata karena merasa prihatin menyaksikan anak-anak di kampung halamannya banyak yang tak bisa lepas dari gadget. Selain itu, Dian juga tak ingin anak-anak di kampungnya mengalami kesulitan yang ia rasakan saat kuliah. Dian mengaku, sejak kecil jarang membaca buku.

“Saya dulu waktu kecil jarang dikenalin buku, terus pas masuk kuliah baru terasa. Ngapain aja ya kemarin, gak baca buku. Sekarang pas udah banyak tugas kuliah jadi berasa waktu untuk baca jadi sedikit,” ungkapnya.

Keinginan untuk melepaskan anak-anak di kampungnya dari “kecanduan” handphone, mendorong Dian untuk mencoba memperkenalkan buku kepada anak-anak. Seiring waktu, ia pun berniat mendirikan sebuah taman baca. Niatnya ini ia sampaikan kepada beberapa kawan kuliahnya. Di luar dugaan, banyak kawan yang mendukung dan mau membantu dirinya. Termasuk saat ia kebingungan untuk mendapatkan buku.

“Sempat bingung karena tidak punya banyak buku, ada teman yang memberi saran untuk mengumpulkan buku melalui donasi,” kenangnya.

Dian beruntung, niatnya itu juga didukung oleh sang Bapak, Cucu Laksana. Sebuah bangunan dengan mengusung konsep tradisional berupa saung dirancang oleh Bapaknya yang juga bertindak sebagai donatur. Bangunan Taman Baca ‘KLUG’ terbuat dari material bambu dan kayu, serta ‘Bilik Bambu’ sebagai bahan bangunan utama. Tujuannya adalah untuk melestarikan dan mengenalkan arsitektur tradisional khas Sunda kepada anak-anak.

Taman Baca Klug

Mendapat dukungan dari sang bapak, Dian semakin bersemangat mewujudkan taman bacanya. Selain membuka donasi buku melalui media sosial, Dian dan teman-temannya menjual scarf dan kerajinan. Motif batik tradisional modern menghiasi scarf yang dijual, salah satunya batik mega mendung dari Cirebon. Sedangkan produk kerajinan bernama Bamboo terdiri dari bermacam jenis seperti pengeras suara, lampu belajar, kap lampu, dan pot bunga. Selain untuk merealisasikan Klug, mereka juga berupaya melestarikan budaya bangsa lewat usaha itu.

Alumni SMAN 1 Purwakarta ini berkeinginan setiap anggota Klug memiliki pemahaman pada potensi di Purwakarta. Salah satunya tercermin dalam konsep Klug sebagai taman baca berkonsep pariwisata.

“Visi Klug itu kan cerdas pariwisata. Dengan mengenal buku, kita juga mengenalkan pariwisata. Dengan mengetahui pariwisata yang ada di Purwakarta, diharapkan setiap anggota Klug dapat memberi contoh bagaimana merawat dan mengembangkan pariwisata itu sendiri,” paparnya.

Untuk mewujudkan tujuan cerdas pariwisata tersebut, Klug merancang berbagai kegiatan yang terangkum menjadi tujuh Aktivitas Seru!. Tujuh kegiatan itu di antaranya Ayo Jelajah!, Kelas Inspirasi, Mari Menanam, Yuk Kreatif!, Asli Purwakarta, Regepkeun, dan Sehen.

Taman Baca Klug

Buku-buku yang disediakan Taman Bacaan Klug, sebagian besar berasal dari hasil donasi, sisanya dibeli sendiri. Ada lebih dari 200 judul buku di taman bacaan ini. Jenisnya bermacam-macam, dari buku cerita bergambar, dongeng, ensiklopedia, seri islami, komik, novel, hingga buku tentang budaya dan pariwisata. “Ternyata anak-anak itu lebih menyukai buku cerita yang lebih banyak gambarnya,” ucap Dian.

Taman baca ini hanya buka pada Sabtu dan Minggu pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Jika Dian di Depok, orang tuanyalah yang menggantinya mengurus Klug. Meski dikhususkan untuk anak-anak rentang usia 7 sampai 14 tahun, Klug terbuka bagi siapapun.

Sejauh ini, Klug telah memiliki banyak anggota. Untuk membuat mereka tetap semangat, setiap bulan, Dian memberi penghargaan bagi anggota yang membaca dengan jumlah buku paling banyak. Guna melebarkan sayap, Klug melakukan kerja sama dengan taman baca lain. Misalnya dengan Rumah Baca Halwa, taman baca yang berada di Sawit, Darangdan, Purwakarta. Mereka berkolaborasi dalam kegiatan Ayo Jelajah! Anggota Klug dan Rumah Baca Halwa menjelajah berbagai tempat wisata edukasi di Purwakarta.

Taman Baca Klug

Klug juga ikut serta dalam Forum Taman Baca Masyarakat Purwakarta, berkolaborasi dengan Sanggar Sastra Purwakarta saat memperingati Hari Buku dan Hak Cipta Dunia. Tidak hanya dengan taman baca, Klug juga berkolaborasi dengan Urang Purwakarta, media anak muda yang fokus pada promosi potensi Purwakarta. 

“Selain meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak Purwakarta, Taman Baca ‘Klug’  juga berharap menjadi media untuk mengenalkan potensi pariwisata dan potensi Purwakarta lainnya kepada anak-anak sejak usia dini,” pungkas Dian.

Kegiatan Taman Baca ‘Klug’

1. Ayo Jelajah!
Kegiatan mengajak anak-anak yang sering mengujungi Taman Baca dan telah membaca banyak buku untuk berwisata secara gratis ke tempat-tempat wisata di Purwakarta.
2. Asli Purwakarta!
merupakan kegiatan mengenalkan kuliner Asli Purwakarta kepada anak-anak. Mulai dari cara membuat, hingga penyajianya.
3. Yuk Kreatif!
merupakan kegiatan memanfaatkan bahan-bahan daur ulang menjadi benda kreatif dan memiliki nilai guna
4. Regepkeun!
merupakan kegiatan mendongeng kisah-kisah mitos di Purwakarta sambil berdiskusi seru tentang berbagai hal baik pengetahuan umum ataupun pariwisata.
5. Mari Menanam!
Kegiatan bercocok tanam tumbuhan yg memiliki manfaat, seperti sayuran dan apotik hidup.
6. Kelas Inspirasi
diisi oleh kakak-kakak KLUG ataupun volunteer dengan memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi dan bercita-cita sesuai dgn keinginan mereka.
7. Sehen!
merupakan kegiatan menonton film animasi yg bersifat edukasi dan mereview bersama.

Bagikan :