Berita


Informasi

Praktik Baik Literasi Masyarakat

21 Oct 2019

Literasi bukan sekadar baca tulis. Literasi abad ini mesti dipahami secara utuh dan mencakup berbagai aspek kehidupan. UNESCO secara pragmatis mengartikan “literasi” sebagai kemampuan menggunakan kecakapan membaca, menulis dan berhitung sesuai konteks, yang diperoleh dan dikembangkan melalui proses pembelajaran dan penerapan di sekolah, keluarga, masyarakat dan situasi lainnya yang relevan untuk remaja dan orang dewasa.

Pengertian dan makna ini menunjukkan keterkaitan literasi dengan akses pada informasi dan ilmu pengetahuan, proses pendidikan berkelanjutan, serta pembelajaran sepanjang hayat. Setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan literasi merupakan modal penting bagi seseorang untuk dapat mengakses dan menguasai ilmu pengetahuan.

Pentingnya literasi juga ditegaskan dalam Forum Ekonomi Dunia tahun 2015, di Davos, Swiss. Pada forum tersebut dihasilkan kesepakatan bahwa di abad 21, setiap bangsa harus memiliki dan menguasai setidaknya tiga jenis keterampilan, yaitu pertama Literasi Dasar yang terdiri atas enam komponen yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, literasi budaya, dan literasi kewargaan.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan mengemas program pengembangan literasi menjadi sebuah gerakan masyarakat. Pemerintah daerah, penggiat literasi, dan penggiat Taman Bacaan Masyarakat bersama-sama melakukan ikhtiar demi menumbuhkan budaya literasi.

Gerakan Literasi Masyarakat yang dijalankan oleh Direktorat Bindiktara bersama masyarakat sejatinya merupakan upaya untuk mendidik masyarakat agar dapat memahami literasi secara utuh. Memahami literasi sebagai alat dasar untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Memiliki kesadaran untuk terus belajar demi menguasai kecakapan hidup yang baru yang dapat mereka gunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Bagikan :