Berita


Informasi

Perjalanan Darat dan Sungai

08 Oct 2019

Perjalanan ke wilayah SAD di sungai Perjudian ini bisa ditempuh dua macam yakni: perjalanan darat dan perjalanan air. Dari Jambi menuju desa Muaramedak dapat ditempuh dalam kurun waktu kurang lebih 3 jam, pemberhentian pertama ialah menuju rumah singgah tempat relawan menitipkan motor, dan selanjutnya perjalanan akan diteruskan dengan menggunakan perahu kecil (ketek) atau perahu lebih besar (cangap) selama 30-40 menit mengarungi aliran kanal yang dikelilingi pemandangan sisa-sisa perkebunan sawit. Kawasan ini telah beralih fungsi menjadi kawasan hutan gambut.

Untuk urusan pendidikan, anak-anak di Desa Muara Medak saat ini mereka telah mengenal baca-tulis dan menghitung sederhana dengan lancar, hal ini merupakan wujud nyata yang telah dicapai relawan SEAD. Pembinaan secara rutin, dua kali dalam satu bulan, SEAD sendiri telah menjalankan pembinaan di areal pemukiman desa Muara Medak selama kurang lebih satu tahun sejak tahun 2017.

Perjalanan Darat dan Sungai

Kehidupan warga SAD Muara Medak masih minim dan lebih mengarah kepada pola pikir yang dianut sebelumnya. Mandi hanya ketika merasa panas dan cuci tangan dan kaki ketika mereka mau. Untuk urusan MCK, di pemukiman SAD desa Muaramedak sudah ada sarana pendukung untuk kegiatan mandi, cuci, dan kakus; yakni berupa kamar mandi dan juga kakus yang di peruntukkan bagi warga di areal pemukiman.

Warga SAD Desa Muara Medak sangat tergantung pada hasil sungainya. Sebagian mereka ada yang mencari hasil hutan seperti; madu hutan dan kayu. Kondisi ekonomi mereka hanya mengandalkan musim, jika musim penghujan maka mereka akan mendapat banyak ikan yang berarti pemasukan juga bertambah. Namun, saat air surut atau musim kemarau, ikan yang didapat pun berkurang dan hal tersebut juga mempengaruhi pendapatan mereka. Begitu juga dengan hasil hutan, belum lagi ditambah bencana kebakaran tahunan saat musim kemarau tiba, dapat melumpuhkan aktifitas dan juga perekonomian warga di areal pemukiman kusus Suku Anak Dalam.

Tantangan awal, selain jarak tempuh yang jauh melewati perjalanan darat dan air pada desa binaan Muara Medak yaitu relawan harus menjemput anak-anak satu per satu dari rumahnya dikarenakan lokasi tempat tinggal mereka yang lumayan jauh dari pondok belajar. Sekolah apung, berupa perahu yang sudah dibuat atas kerja sama dengan PT Pertamina Jambi Merang. Pencapaian dari desa binaan Muara Medak ini adalah anak-anak sudah lulus ujian Paket A dan sebagian anak sudah melanjutkan sekolah formal di salah satu SMP di Kota Jambi. Serta anak-anak binaan desa Muara Medak sudah tinggal dan menetap di Rumah Asuh Umah Nadhira.

Perjalanan Darat dan Sungai

Permukiman mereka dapat dicapai dari Dusun Tujuh, Desa Muara Medak. Di dusun tersebut, terdapat sebuah dermaga kecil. Dengan menumpang ketek, perahu kecil menyusuri sungai kecil melintasi perkebunan sawit, kita akan sampai ke area permukiman SAD dengan perahu selama 40 menit. Namun, jika air sungai surut, dan ketek tidak bisa lewat. Terpaksa mengendarai sepeda motor menyusuri jalan setapak selama 20 menit untuk sampai ke permukiman mereka.

“Pernah suatu malam, saat gelap. Tiba-tiba kelambu untuk lampu templok mati dan terjatuh. Kami benahi dan saat akan menempel kembali. Ternyata di atas bambu pengait lampu templok ada ular piton besar siap menyergap. Alhamdulillah kami lari dan selamat, orang SAD pun  membunuhnya,” ujar Sinta, relawan yang menetap di Muara Medak.

Waris, warga SAD yang sudah berada di luar dan menjadi penghubung SAD dengan orang luar, mengatakan bahwa di kawasan hutan Jambi masih banyak babi hutan dan harimau menghampiri. Namun bagi mereka binatang buas itu adalah saudara mereka.

Perjalanan Darat dan Sungai

“Bagi kami mereka adalah saudara. Saat mereka keluar, artinya membawa pesan atau sekedar peringatan. Jadi kami segera pulang dan berkumpul dengan warga SAD lainnya,” ujar Waris.

Warga SAD binaan relawan SEAD tersebar di tiga titik,  dengan budaya, dialek dan jarak tempuh berbeda.  Untuk SAD di wilayah Desa Muara Medak dari Kota Jambi membutuhkan waktu 2 jam perjalanan dengan sepeda motor. Sedang untuk wilayah Desa Skaladi menempuh 1 hingga 1,5 jam, dan wilayah Koto Boyo menghabiskan waktu 6 jam.

"Dari tiga wilayah, paling menantang jalan ke Medak, jalan setapak dan sering bermasalah jika hujan. Jalan becek dan sulit dilalui.  Kami sering terjatuh, dan tertimpa sepeda motor. Kalau kota buayo jauh, butuh waktu 6 jam perjalanan, medannya naik turun saja, " ungkap Nice Nurhayati, HRD Personalia SEAD yang juga relawan yang sering menginap di permukiman SAD di dalam hutan Koto Boyo.

Bagikan :