Berita


Informasi

Nursyda Syam: Menebar Virus Baca

10 Feb 2019

Nursyda Syam bergerak menebar virus membaca bersama ratusan relawan. Belasan ribu judul buku ia sediakan.

Menjadi penebar virus membaca hingga mampu mendirikan klub baca bagi kaum perempuan di kampung halaman adalah mimpi yang terwujud bagi Nursyda Syam. Mimpi tersebut salah satunya bermula dari peristiwa kelam saat masa kuliah di Kota Pelajar Yogyakarta. Kala itu, ia yang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta berada dalam kondisi pas-pasan. Namun di sisi lain, semangat membaca yang begitu kuat membuatnya harus mencari bahan bacaan. Apa saja.

Ketika itu, menurut Nursyda, ia bahkan kesulitan untuk melampiaskan hasrat membacanya yang menggebu. Pencarian bahan bacaan terus dilakukan sampai suatu hari, di sebuah toko buku di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, ia menemukan buku berjudul Indonesia Tanpa Pagar.

“Saya suka sekali buku itu. Tapi untuk membeli tidak mungkin karena tidak punya uang. Setiap hari saya berjalan kaki dari Kaliurang ke toko buku itu sekitar 5 kilo meter. Hanya berbekal air putih, saya menumpang baca,” cerita Nusryida.

Sayangnya, upayanya untuk bisa membaca tuntas buku Indonesia Tanpa Pagar harus terhenti. Pasalnya, petugas keamanan toko buku menyadari bahwa Nursyda hanya numpang membaca gratis. “Satpam itu pun mengusir saya di depan banyak orang. Betapa malunya saya waktu itu," kenang Nursyda.

Peristiwa pahit dan menyesakkan itu jelas tak akan terlupakan. Namun, karena peristiwa itu pula, Nursyda bertekad dalam hati untuk membuat sebuah taman baca yang dapat diakses oleh masyarakat luas, oleh siapa pun dan tidak harus beli. Gratis.

“Ketika itu semangat membaca saya terus terjaga dan tak patah arang meski tak punya uang untuk membeli buku,” ujar Nursyda yang mengaku di Kota Gudeg ia juga seperti menemukan dunia yang ia cari, dimana di setiap sudut orang membaca. “di Yogya feel membaca saya dapat. Saya ingin membawa suasana ini ke kampung halaman,” tambahnya.

Nursyda mengaku hidup dalam kondisi sederhana dan harus siap sengsara sudah ditegaskan sang ayah saat ia memilih untuk kuliah di Yogyakarta. “Ayah saya seorang jurnalis. Beliau menyatakan, untuk menjadi seorang jurnalis harus siap miskin. Pun untuk kuliah, di Yogya harus siap 'sengsara', harus berani mengamen, menjual koran,” kenangnya.

 

Klub Baca Perempuan

Usai kuliah, Nursyda kembali ke kampung halamannya di Lombok. Ia pun berteguh untuk mewujudkan cita-cita yang ia semai saat kuliah. Dengan dukungan suami, ia pun bersama beberapa kawan perempuannya mencoba mendirikan taman baca. “Dimulai dengan membuka rumah pribadi sebagai rumah pintar di Lombok Timur. Kami merintis Klub Baca Perempuan ini bersama lima orang perempuan. Kemudian komunitas ini bubar, lalu kami berpencar, saya hijrah ke Lombok Utara dan dengan 200 buku, saya merintis klub sendiri di tempat ini. Di lain pihak semangat Klub Baca Perempuan tetap kami pelihara,” katanya.

Menurut Nursyda, sampai saat ini ia sudah memiliki 24 taman baca dengan ratusan relawan yang terpencar di berbagai wilayah di Lombok. Yang menarik, Nursyda juga mengembangkan jaringan di luar Lombok yang disebutnya sebagai "Kerabat Klub Baca Perempuan" yang di antaranya ada di Bogor, Bandung, dan Jakarta. Kerabat Klub Baca Perempuan ini secara rutin mengirimkan buku. “Sampai sekarang koleksi buku yang dimiliki Klub Baca Perempuan sudah tembus 15 ribu judul buku yang terbagi ke seluruh cabang dan sekolah, serta mitra jejaring Klub Baca Perempuan,” ujarnya bangga.

Untuk mendukung upaya membangun budaya baca, pada perkembangannya Nursyda dan kawan-kawan mendirikan sekolah alam anak negeri. Yang terbaru, klub baca dan sekolah ia didirikan di dusun Dusun Lendang Galuh, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

“Dari total yang ada sekarang ini, jumlah anak yang masuk dalam daftar sekolah anak negeri sebanyak 90 anak dari 3 dusun berbeda yakni Dusun Jambi Anom, Prawira dan Dusun Lendang Galuh. Bahkan, sudah ada daftar tunggu dari beberapa dusun yang ingin mendirikan sekolah alam anak negeri maupun Klub Baca Perempuan,” jelas Nursyda.

Perlahan tapi pasti, gerakan mengembangkan semangat baca yang pada awalnya disangsikan warga sekitar terus menuai respons positif. Sedikit demi sedikit, pola pikir yang ditanamkan sosok perempuan dua anak ini mampu meningkatkan minat masyarakat. Tak hanya di kalangan perempuan dan ibu-ibu, tetapi juga anak-anak. Mereka mulai candu membaca buku dan mencintai alam sekitar mereka. Karena  bagi Nursyda, pendidikan bukan hanya di sekolah melainkan di alam sekitarnya pun sangat memberikan arti besar.

Menginspirasi

Nursyda kini bisa menatap masa depan budaya baca dengan senyum mengembang. Bagaimana tidak, perjuangannya tidak mudah. Pada awal menginisiasi sekolah alam negeri dan Klub Baca Perempuan, tidak sedikit yang mengisukan ia punya misi politis. Banyak yang menilai, Nursyda mendirikan kelompok baca di perpustakaannya adalah sebagai salah satu sarana ia terjun dalam bidang politik.

Tentu bukan Nursyda putus asa hanya karena isu tak berakar. Semua ditepisnya dengan menganggapnya angin lalu. Dan akhirnya, respon baik pun tumbuh di masyarakat. Anggota klub baca pun dari hari ke hari terus bertambah.

“Saya tak punya niat lain dan saya yakin, Allah SWT Mahatahu niat tulus saya. Tidak ada yang diharapkannya kecuali ingin mencerdaskan anak bangsa dengan membaca buku, serta sedikit menghilangkan citra di kalangan masyarakat bahwa ibu-ibu hanya bisa ngegosip,” ungkap Nursyda.

Jika ada hal lain, Nursyda mengaku, ia ingin menginspirasi pada masyarakat sebagaimana pengalaman masa kecilnya. Saat kecil, Nursyda sangat ingin seperti sosok perempuan yang datang ke kampung-kampung untuk memberikan buku-buku kepada masyarakat agar masyarakat gemar membaca. “Sosok itu adalah Ibu Nanik namanya,” katanya.

Sosok Ibu Nanik dan pengalaman mengesankan itulah, aku Nursyda, yang terus melakat hingga sekarang ini. “Hidup ini bukan untuk kita sendiri dan bagaimana agar hidup ini juga bermanfaat bagi orang lain adalah prinsip,” tegas istri dari Badrul Islam ini.

Semoga perjuangan Nursyda dengan Klub Baca Perempuan dan sekolah alam negeri ini makin sukses dan terus terjaga keberlangsungannya.

 

Bagikan :