Berita


Informasi

Mumu Alimudin, Merawat Tradisi Menghidupkan Ekonomi Kampung

08 Oct 2019

Dua puluh tahun lebih Mumu Alimudin setia menularkan keterampilannya membuat angklung pada warga di kampungnya. Melalui kegiatan ekonomi kreatif itu, kampungnya kini menjelma menjadi “Kampung Angklung”.

Bangunan beralas tanah itu hanya berdinding kain bekas spanduk, atapnya dipasangi asbes sebagai pelindung dari sengatan matahari dan kucuran hujan. Tak ada mesin atau alat canggih di tempat itu. Barangkali, alat yang terlihat paling berharga di tempat tersebut hanya sebuah televisi berukuran 21 inch dan dispenser air minum lengkap dengan galon air.

Di ruangan penuh dengan potongan bambu itu, tiga orang lelaki tampak asyik memilah dan meraut potongan bambu menggunakan pisau. Salah seorang di antaranya adalah Mumu Alimudin. Lelaki berperawakan kurus ini nampak serius menyetel nada yang dihasilkan oleh angklung-angklung setengah jadi itu.

Di kampung Nempel, Desa Panyingkiran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat lelaki kelahiran Banjar 53 tahun silam itu dikenal sebagai perintis usaha pembuatan angklung. Sudah hampir 20 tahun ia berkarya di “bengkel” sederhana yang dibangun persis di depan rumahnya itu. Mumu tidak bekerja sendiri. Lima orang perajin membantunya. Istri dan kemenakannya juga turut. Tugasnya berbeda-beda. Ada yang memotong, merakit, dan mengikat angklung. Ia sendiri menyetel nada.

Dari bengkel sederhana itulah, ribuan angklung dihasilkan setiap bulannya. Angklung hasil karyanya itu sebagian besar merupakan pesanan dari berbagai daerah di tanah air dan juga mancanegara.

Merintis Usaha Angklung
Mumu sebenarnya warga pendatang. Ia tinggal di kampung ini sejak menikah dengan istrinya tahun 1990. Sejak menetap, Mumu tertarik melihat banyaknya pohon bambu di perkampungan tersebut.

Warga biasanya menjual bambu itu seharga Rp9000 per batang. Bambu itu biasanya digunakan untuk bahan bangunan. Namun tidak semua bagian dapat digunakan. Ujung bambu yang berukuran kecil atau biasa disebut congo, biasanya dibuang atau dijadikan kayu bakar. “Limbah bambu inilah yang kita gunakan untuk membuat angklung,” ungkap Mumu.

Melihat peluang itu, Mumu merintis usaha pembuatan angklung. Selain karena melihat banyaknya sisa batang bambu yang terbuang, Mumu memilih usaha ini karena punya keterampilan membuat angklung. “Saya belajar membuat angklung sejak masih tinggal di Banjar,” tambahnya.

Soal bahan, Mumu tidak fanatik menggunakan bambu hitam, jenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat angklung. Karena Kabupaten Ciamis dikenal dengan kebun bambu dari jenis bambu tali, maka ia memilih menggunakan jenis bambu tersebut. “Kecuali kalau ada pesanan yang minta menggunakan bambu hitam, ya baru kita buatkan,” ungkapnya.

Pilihannya terbukti tepat. Dengan menggunakan jenis bambu yang tersedia di kampungnya, Mumu tidak pernah kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku, apalagi bahan baku yang digunakan merupakan bambu “limbah”.

Ia bisa memeroleh bahan baku tersebut dengan harga murah. Untuk satu batang “congo” awi, ia biasa mengeluarkan uang sebesar Rp650. Usahanya yang menggunakan limbah bambu ini memberikan keuntungan tambahan bagi para pemilik bambu di kampung itu. Bila biasanya congo awi itu dibuang begitu saja, maka sejak Mumu merintis usaha pembuatan angklung, bambu sisa itu memiliki nilai tambah, selain untuk dijadikan bahan bakar.

Mumu mengaku, sejak angklung dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh PBB., pesanan angklung turut melonjak. Mumu mengaku kewalahan menerima pesanan angklung. Dalam satu bulan hanya bisa memenuhi sekitar 600 set atau 600 oktav angklung. Padahal pesanan perbulan bisa mencapai 2.000 oktav.

Pesanan angklung terbanyak berasal dari Tangkuban Parahu. Dalam satu minggu pesanan dari kawasan wisata di Bandung mencapai 400 set. Satu set angklung dihargai Rp50.000 hingga Rp300.000 untuk angklung biasa. Selain itu, saat ini Mumu juga memenuhi pesanan angklung besar yang terbuat dari bambu hitam sebanyak 90 set, yang harganya kisaran Rp3 juta hingga Rp10 juta. “Alhamdulillah pesanan selalu banyak, hingga tidak bisa terpenuhi,” katanya.

Mumu Alimudin, Merawat Tradisi Menghidupkan Ekonomi Kampung

Memberdayakan Warga
Jumlah pesanan yang terus meningkat, membuat Mumu kewalahan memenuhi pesanan. Tak ingin melepas peluang, Mumu merekrut pekerja. Namun, Mumu tetap kewalahan memenuhi order. Ia pun kemudian mengajari para tetangganya membuat angklung. Masing-masing diajari memproduksi bagia-bagian angklung yang nantinya akan dirangkai hingga menjadi sebuah angklung yang utuh.

“Satu angklung utuh itu kita bagi menjadi 10 bagian yang masing-masing dikerjakan oleh warga,” terang Mumu.

Cara ini ditempuh demi mempermudah pengawasan kualitas pekerjaan, sekaligus mempercepat proses pembuatan satu set angklung yang terdiri atas 8 angklung dengan nada yang berbeda tersebut.

Seiring meningkatnya jumlah pesanan, para tetangganya yang ia ajari semakin mahir membuat angklung secara keseluruhan. Beberapa di antaranya memilih membuka usaha sendiri. Mumu tidak keberatan. Justru ia semakin banyak merekrut warga sekitar untuk diajari membuat angklung.

Mumu mengaku bahagia bisa memberdayakan masyarakat sekitar. “Saya sangat bahagia karena melalui usaha angklung yang saya rintis, secara tidak langsung sudah memberikan manfaat bagi warga di sini, terutama dari segi ekonomi,” ungkapnya.

Apa yang dikatakan Mumu tidak asal sebut. Warga kampung, terutama ibu-ibu yang ikut membuat angklung, rerata dalam satu hari bisa memeroleh penghasilan Rp40.000 s.d. Rp50.000. “Mereka mengerjakan di rumah masing-masing,” tambah Mumu.

Merintis Kampung Angklung
Menyusuri gang-gang sempit di kawasan permukiman padat penduduk itu, dengan mudah menjumpai warga yang sedang mengolah bambu menjadi angklung. Menurut Mumu, sedikitnya 40 kepala keluarga di Dusun Nempel RT 02 /RW 07 Desa Panyingkiran Kecamatan Ciamis, menjadi perajin alat musik tradisional angklung. Mereka menjadikan kerajinan angklung sebagai andalan untuk kehidupan ekonomi keluarga.

Setiap hari, para perajin angklung di kampung ini rerata mampu merakit angklung hingga 1.000 oktaf. Angklung-angklung bernada rendah, sedang, dan tinggi dari Kampung Nempel ini selanjutnya dikirim ke kawasan wisata seperti Gunung Tangkubanparahu, Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, Saung Angklung Udjo, dan obyek-obyek wisata di Yogyakarta, Bali.

“Perajin angklung di desa ini juga sudah lama bekerja sama dengan Saung Udjo di Bandung untuk menyediakan angklung berkualitas, termasuk memenuhi permintaan dari berbagai instansi di luar daerah,” ungkap Mumu.

Selain order rutin, para perajin angklung di Kampung Nempel juga kerap mendapat order untuk acara nasional maupun internasional. Salah satunya pada peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 2016, panitia kegiatan mengorder sebanyak 20 ribu angklung. ''Karena waktu dan kemampuan, kami hanya menyanggupi 10 ribu angklung,'' ujar Mumu.

'Para perajin angklung Ciamis memang sudah terkenal ke berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat.Mumu juga menjelaskan, angklung buatan perajin Kampung Nempel selain dikenal karena kualitasnya yang baik, juga dikenal karena coraknya yang berbeda dengan angklung buatan perajin dari daerah lainnya. Angklung buatan perajin kampung Nempel memiliki corak batik. Ini menjadi ciri khas angklung Ciamis. Corak inilah yang membuat angklung Ciamis selain merambah dalam negeri dari segmen pariwisata dan pendidikan, juga merambah pasar mancanegara seperti di Amerika, Korea, Cina, India, Singapura, dan Jepang.

“Jika melihat ada angklung dengan motif batik pada bambunya maka sudah bisa dipastikan jika angklung tersebut produksi Ciamis,” kata Mumu.

Keberhasilan Mumu mengangkat kerajinan angklung di kampungnya, tidak lantas membuatnya berhenti bermimpi. Sebaliknya, Mumu dan para perajin di Kampung Nempel tengah berupaya menjadikan kampung mereka sebagai Kampung Angklung.

Upaya ini, Mumu menambahkan, merupakan bagian dari strategi untuk mengangkat nama desa serta perekonomian masyarakat, baik untuk pengrajin ataupun masyarakat di sekitarnya. “Dengan label Kampung Angklung, saya yakin akan berdampak positif pada kesejahteraan para pengrajin,” terangnya.

Potensi untuk menjadikan kampung ini sebagai Kampung Angklung cukup besar. Selain corak dan kualitas produk yang sudah dikenal luas, bahan baku untuk pembuatan angklung juga melimpah. “Para perajin di sini tidak perlu memesan dari daerah lain,” ujarnya.

Mumu mengaku, ia dan perajin di kampungnya belum menyerah untuk mewujudkan mimpi mereka menjadikan kampungnya sebagai Kampung Angklung. “Sudah hampir 20 tahun kami berusaha menjadikan kampung kami menjadi Kampung Angklung. Kami belum, dan tidak akan menyerah,” tegasnya.

Mumu mengaku termotivasi membuat Kampung Angklung, bukan sekadar mengejar keuntungan materi semata. Upaya itu, lanjut dia merupakan bagian dari upayanya memperkenalkan angklung kepada masyarakat secara luas. Demi memuluskan langkahnya, ia gencar memperkenalkan angklung pada anak sekolah. Ia juga mengajari guru-guru sekolah formal, terutama guru bidang kesenian untuk memainkan angklung.

Mumu juga tengah merancang sebuah sanggar untuk mempertunjukkan proses pembuatan sekaligus pertunjukkan angklung. Sanggar yang baru berujud rangka bangunan itu berada tak jauh dari bengkel kerjanya.

Sanggar ini, menurut dia, sangat dibutuhkan untuk mempercepat terwujudnya Kampung Angklung. Dalam benaknya, selain aktivitas warga kampung yang sebagian besar membuat angklung, kampung ini juga memiliki sebuah sanggar yang representatif untuk menampilkan karya dan pertunjukan angklung khas Kampung Nempel.

“Ide ini muncul karena jika tamu datang hanya untuk melihat proses produksi saja rasanya kurang pas, sehingga kami butuh sanggar untuk menunjang pementasan, justru yang menjadi daya tarik yaitu dengan adanya pementasan,”ujarnya.

Mumu yang sempat mewakili Ciamis untuk ikut Festival budaya dan kesenian di Vietnam tahun 2004 dan juga Malaysia serta Singapura pada tahun 2009 ini, rupanya sudah memiliki visi bagaimana wujud maupun kegiatan sanggarnya. Dalam bayangannya, sanggar nantinya tidak hanya menampilkan kesenian musik tradisional angklung, namun juga sejumlah pertunjukan asli Ciamis lainnya seperti bebegig dari Sukamantri, gondang buhun serta Ronggeng Gunung.

Selain pertunjukan, nantinya di sekitaran sanggar akan dipamerkan sejumlah alat kesenian asli Kab Ciamis dan dijual pula pernak-pernik buatan Ciamis. "Sehingga semua aspek nantinya akan berjalan dan berkembang dengan adanya sanggar tersebut," ujarnya.

Dia menegaskan, selain berwisata kesenian angklung, wisatawan luar juga bisa berwisata kuliner, sehingga ini akan menjadi potensi yang bagus untuk meningkatkan pendapatan pemerintah daerah dan ekomomi masyarakat Ciamis khususnya," kata lelaki yang baru saja meraih penghargaan sebagai Tokoh Pelopor Pemberdayaan Masyarakat tahun 2016 ini.

Bagikan :