Berita

Merayakan Hari Buku Nasional

18 Jun 2017

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Tidak ada perayaan besar-besaran untuk memeringatinya. Namun, perayaan Hari Buku Nasional sudah dilaksanakan sejak 2002. Penentuan Hari Buku Nasional adalah buah pemikiran Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar (periode 2001-2004).

Penetapan Hari Buku Nasional menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku. Hal itu tak lepas dari kondisi memprihatinkan di Indonesia, dimana rata-rata hanya 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Jumlah tersebut jauh di bawah Jepang dengan 40 ribu judul buku per tahun atau China dengan 140 ribu judul per tahun.

Gagasan ini juga diperlukan diperlukan untuk meningkatkan minat baca dan angka melek huruf yang di Indonesia yang masih rendah kala itu. Tingkat melek huruf di Indonesia pada orang dewasa atau penduduk berusia di atas 15 tahun, menurut laporan UNESCO, pada 2002 hanya 87,9 persen. Angka tersebut kalah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (88,7 persen), Vietnam (90,3 persen), dan Thailand (92,6 persen) di tahun yang sama.

Menumbuhkan kebiasaan membaca buku menjadi tantangan bagi bangsa ini. Namun, tantangan itu tetap harus dihadapi bersama. Ini penting karena menyangkut kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Tantangan yang tengah dihadapi bangsa ini, bukan lagi sekadar bagaimana agar seluruh penduduk negeri ini bisa membaca, menulis, dan menghitung. Tantangan terbesar adalah menyiapkan calon penerus bangsa ini menjadi menjadi generasi pemenang.

Untuk mewujudkan itu, ada tiga modal utama yang harus dimiliki, yaitu literasi dasar, kompetensi utama, dan karakter. Terkait literasi dasar, selain kemampuan baca tulis dan hitung, juga harus dibarengi kemampuan literasi lainnya seperti literasi IT, literasi sains juga literasi finansial, dan kemampuan literasi lainnya yang sejalan dengan tuntutan jaman.

Modal berikutnya kompetensi yang dibutuhkan di masa depan, yaitu kemampuan untuk berpikir kritis, kemampuan untuk kreatif, kemampuan untuk berkomunikasi, kemampuan untuk bekerja sama.

Menurut Supriyanto, Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional, meningkatkan kegemaran membaca, dimulai dari menumbuhkan reading interest, reading habbit, reading culture, sampai reading skill.  Sehingga pengetahuan yang diperoleh dari membaca menjadi ‘alat’ bagi untuk berdaya dan mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Gratiskan Pengiriman Buku

Tahun 2017 atau 15 tahun peringatan Hari Buku Nasional, upaya meningkatkan literasi masyarakat terus menggeliat. Bahkan kian menggelora. Buktinya, bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional, Presiden Joko Widodo menepati janjinya saat bertemu dengan para pegiat literasi yang diundangnya ke Istana, 2 Mei 2017.

Seperti dikutip Tempo.co, Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan menggratiskan pengiriman buku lewat kantor Pos Indonesia pada tanggal 17 setiap bulan. Kebijakan menggratiskan biaya pengiriman buku ke daerah ini artinya pemerintah menanggung biaya pengiriman buku tersebut. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat minat baca pada anak-anak.

"Sesuai dengan janji saya pada seluruh pegiat literasi, pegiat minat baca, setiap bulan, ada satu hari kita bisa mengirimkan buku ke pelosok Tanah Air lewat kantor Pos setiap tanggal 17 itu digratiskan," kata Jokowi setelah memperingati Hari Buku Nasional di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 17 Mei 2017.

Khusus untuk bulan Mei ini, penggratisan dilakukan pada tanggal 20. Untuk bulan-bulan berikutnya, pengiriman buku gratis dilakukan setiap tanggal 17. Dia berharap upaya ini akan memperkuat minat baca pada seluruh masyarakat, khususnya pada anak-anak.

"Tadi sudah saya telepon ke Menteri BUMN, ke Kantor Pos, agar disediakan 1 hari saja untuk kirim buku itu gratis. Sudah disetujui. Setiap bulan. Ini masukan, ini masukan dari Bapak, Ibu para pegiat tadi, pegiat literasi agar nantinya kirim buku antar pustaka ini lebih gampang, lebih mudah, dan tidak terbebani oleh biaya," kata Jokowi saat bertemu pegiat literasi di Istana Negara, 2 Mei lalu.

Pengiriman buku gratis ini, kata Jokowi, akan membuat buku-buku yang dikirim ke daerah menjadi lebih murah. "Karena kami tahu ongkos kirim dari kota ke desa, dari Jawa ke luar Jawa lebih mahal dari harga bukunya," kata Jokowi.

 

 

Bagikan :