Berita


Informasi

Memperkenalkan Literasi pada Suku Anak Dalam

08 Oct 2019

Perjuangan relawan SEAD dimulai oleh Reny Ayu Wulandari dan Mira Rizki Pardina onalisa Putri. Dua pemudi pecinta alam ini merasa terpanggil akan kehidupan SAD yang terbelakang, budaya dan pendidikannya.

"Kita semua tahu jika Suku Anak Dalam itu lekat dengan Jambi. Namun tidak banyak anak muda Jambi yang bersedia masuk ke hutan dan berbuat sesuatu. Saya malu, harusnya kami dari Jambi yang pertama turun,” kata Reny, Founder dan pendiri SEAD.

Awal mula perjuangan Reny mencerdaskan anak SAD dimulai awal tahun 2017. Setelah lulus kuliah,  Reny memutuskan untuk menetap di dalam rimba guna menghabiskan waktu mengajar anak-anak Suku Anak Dalam membaca, menulis, dan berhitung.

Seiring waktu berjalan, Reny bersama kawannya Mira mencoba mengajak anak-anak Jambi lainnya untuk turut peduli kepada masa depan anak-anak SAD. Dari sekedar memberi informasi terkait kehidupan SAD hingga mencari donasi untuk membeli keperluan belajar anak-anak SAD.

Sebelum menetap di rimba, dari rumahnya di pusat kota, Reny biasa memacu sepeda motornya setiap hari. Tergelincir dan jatuh dari motor saat melewati jalanan tanah berpasir pun sudah menjadi makanan sehari-hari.

Saat pertama kali mengajar di rimba, Reny harus mendatangi rumah Suku Anak Dalam dari pintu ke pintu. Diakuinya cukup sulit mendapat kepercayaan dari orang tua anak-anak di sana.

Namun niat tulus dan kesabaran, Reny mulai membangun hubungan baik dengan mereka, membuka diri atas sikap dan perilaku Suku Anak Dalam, dengan begitu Reny perlahan bisa diterima. Reny pun menjadi orang luar yang paling lama hidup bersama Suku Anak Dalam, tepatnya di pinggir Sungai Pejudian.

Memperkenalkan Literasi pada Suku Anak Dalam

"Awalnya banyak orang tua SAD yang tidak memberi izin anaknya belajar.  Namun lamban laun dengan pendekatan dan sedikit penjelasan, akhirnya banyak orang tua yang mengizinkan bahkan menyuruh anaknya belajar, " ujar Reny.

Tantangan belum berakhir.  Setelah orang tua SAD mengizinkan anak-anaknya untuk belajar. Kini, giliran anak-anaknya yang takut dan tidak mau belajar, mereka  lebih memilih melaut - mencari ikan di sungai-sungai hutan.

Adi dan Baim adalah dua dari anak-anak SAD yang sekarang antusias bersekolah, mereka bersama enam anak SAD lainnya telah menetap dan bersekolah di MTs, di Kota Jambi.

“Dulu kami lari ke hutan, nggak mau sekolah,” cerita Adi bersemangat. Ketika ditanya kenapa, Baim menyahut, “Takut.”

“Trus dikejar dan ditangkap sama bapak,” kata Adi sambil tertawa. Ia merupakan anak Pak Jauhari.

Dengan kesabaran,  Reny pun sering mendatangi dan menjemput anak-anak yang lagi mencari ikan di sungai tengah hutan.

Namun perlahan, Reny mulai mengikuti keinginan dan perilaku anak-anak SAD. Dengan sekali kali memberi nilai-nilai pengajaran dalam berkomunikasi dengan anak-anak SAD. Alhasil, Reny menjadi orang asing pertama dari kota yang dipercaya menjadi guru.

Saat mengetahui Reny akan menetap dan tinggal bersama mereka, kaum lelaki dan pemuda Suku Anak Dalam mengambil inisiatif. Dalam sekejap mereka membangun sebuah pondok di bibir sungai, khusus untuk Reny.

Sedangkan kaum ibunya menyiapkan gelas, piring dan segala perlengkapan dapur. “Semua mereka sediakan untuk saya,” kata Reny.

Di dalam pondok sederhana itu, dengan penerangan sekadarnya, Reny mesti melewati malam pertamanya di tengah hutan. Takut dan waswas.

Untungnya, kecemasan itu lenyap saat ada 15 orang anak datang ke pondok dan menemaninya tidur.

“Kecerian anak-anak itu, ternyata mengusir ketakutan kami,” katanya tersenyum.

Memperkenalkan Literasi pada Suku Anak Dalam

Hari-hari pertama Reny diisi dengan melakoni gaya hidup ala Suku Anak Dalam. Dia belajar bagaimana sungai sebagai sumber hidup tidak boleh dikotori. Anak Dalam tidak pernah buang air besar di pinggir sungai.

“Awalnya saja yang sulit, lama-lama saya terbiasa di sini,” katanya lagi.

Pagi hari, saat lelaki dan perempuan Suku Anak Dalam memulai rutinas, Reny akan mengumpulkan anak-anak di rumah Jauhari, pimpinan atau Tumenggung secara adat.

Tumenggung berarti pimpinan, orang yang dituakan. Menariknya, sejak awal kedatangan Reny, Jauhari bersedia menjadikan rumahnya sebagai sekolah. Namun anak-anak ternyata tidak senang belajar dalam ruangan, mereka merasa terkurung. Sehingga mereka lebih suka belajar di alam terbuka.

Akhirnya, Reny pun tidak hilang akal. Ia lalu membuka kelas di hutan dan di sungai. Reny menggantungkan angka dan huruf di lembaran kertas pada sebatang pohon. Anak-anak akan memanjat pohon itu untuk mengambil setiap huruf yang disebutkan Reny. Kadang, Reny menancapkan kayu-kayu yang telah ditempeli huruf dan angka di sungai. Anak-anak harus berenang meraih huruf yang dibacakan. Pola mengajar ini terus berkembang sesuai keadaan.

Reny kadang mengenalkan warna dari beragam corak tumbuhan dan menyebutkan nama setiap hewan yang mereka lihat.

Setiap hari jumlah muridnya pun makin bertambah. Dan orang tua SAD makin terbuka dan percaya pendidikan dapat merubah masa depan anak-anaknya.

 Namun,  karena jarak rumah SAD yang berjauhan. Membuat rumah Jauhari sering dijadikan tempat menginap anak-anak SAD yang kemalaman.

Untuk menjaga kontinuitas program pencerdasan anak-anak Suku Anak Dalam. Reny bersama relawan lainnya pada Februari 2017 mendirikan komunitas atau organisasi Sobat Eksplorasi Anak Dalam (SEAD).

Beruntunglah ada Nurseno, lelaki yang bekerja di Pertamina, yang ditemui Jauhari hampir dua tahun silam. Seno merupakan salah seorang CSR Officer di JOB Pertamina Talisman Jambi Merang (JOB PTJM), yang banyak menghabiskan waktu bersama Suku Anak Dalam hingga mengenal mereka secara individu.

Melalui Nurseno, SEAD digandeng oleh CSR JOB PTJM untuk menanamkan pendidikan yang didukung oleh fasilitas penghidupan yang layak bagi Suku Anak Dalam.

Mengusung program bertajuk Barisan Selempang Cinta Bumi, JOB PTSM membangun sebuah sistem filterisasi air untuk menyediakan air bersih, berasal dari air Sungai Pejudian.

Memperkenalkan Literasi pada Suku Anak Dalam

Sumber air yang lebih bersih inilah yang menarik keluarga lain untuk membangun rumah lebih berdekatan. Alhasil, anak-anak yang tadinya perlu menginap di rumah Jauhari, kini bisa tinggal bersama orang tua mereka.

Dukungan untuk Reny dan anak-anak Suku Anak Dalam belum berhenti sampai di situ. Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, JOB PTJM membuatkan Sekolah Apung, sebuah bangunan sederhana berukuruan kira-kira 4 x 2 meter yang diapungkan menggunakan sejumlah drum.

"Sekolah apung ini atau bangunan apung ini berfungsi untuk menjemput anak-anak sekaligus tempat belajar mereka, " ujar Friska,  Ketua SEAD kedua,  setelah Reny.

Bak sekolah pada umumnya, bangunan itu juga punya atap, setiap sisinya dipagari agar aman. Anak didik yang diajar Reny pun kian bertambah, proses belajar juga lebih menyenangkan.

Mindaryoko, Bussines Support Manager JOB PTJM mengatakan program CSR yang dijalankan memang dirancang untuk menunjang kehidupan Suku Anak Dalam. Sejak Sekolah Apung ada, kata Mindaryoko, para pekerja di kantornya sering berkunjung ke perkampungan ini, ingin ikut mengajar atau berbuat apa saja yang bisa membantu.

Menurut Rischa Cosasi, Ketua SEAD sebagai penerus perjuangan Reny, wilayah dan budaya SAD di masing-masing wilayah sangat berbeda. Termasuk karakter anak-anaknya. Di Medak, kata Rischa,  warganya sudah sangat terbuka, dan hidup di rumah kayu yang sudah dibuat Pertamina. Anak-anaknya berani dan cepat beradaptasi. Sedangkan SAD di Skaladi dan Koto Boyo, warganya hidup di rumah beratap terpal dan masih sering berpindah-pindah, anak-anaknya pemalu dan tertutup, masih sulit berkomunikasi, adaptasinya lama.

“Anak-anak Medak memiliki keinginan belajar tinggi. Sedangkan di Skaladi dan Koto Boyo, sebagian orang tuanya masih primitif dan nomaden. Sehingga anak-anaknya masih kesulitan belajar, kadang untuk mengajar mereka, kita harus menjemput dan memanggil mereka di tengah hutan. Kemajuan belajar anak-anak Medak lebih cepat dibanding anak-anak Skaladi dan koto Boyo. Mereka agak lambat,” ungkap Rischa.

Menurut Rischa, sebelum mengajar anak-anak SAD. Untuk memberi kepercayaan warga SAD, mereka melakukan pendekatan terlebih dahulu. Dengan secara rutin, sebulan sekali membawa bantuan makanan berupa ubi dan keperluan hidup mereka.

“Kami membawa ubi dan keperluan mereka dengan sepeda motor. Sepeda motor kami, semua penuh dengan makanan yang akan kami berikan kepada mereka. Makanya kami memilih naik sepeda motor bebek, karena banyak celah yang bisa ditempati barang bawaan,” ungkap Rischa, seraya menambahkan untuk efisiensi dan efektifitas minimal berenam atau tiga sepeda motor jika datang ke wilayah binaan SEAD.

Setelah orang tuanya percaya, kata Rischa, mulai meminta orang tuanya untuk memberi pengertian kepada anaknya untuk belajar bersama relawan SEAD.

“Setiap minggu sekali, relawan kami menetap di Medak secara bergantian. Untuk wilayah Skaladi, relawan menginap dua minggu sekali. Sedangkan wilayah Koto Boyo, relawan datang sekali dalam sebulan. Karena perjalanannya jauh dan membutuhkan waktu yang lebih banyak, soalnya SAD di Koto Boyo masih berpindah-pindah,” ujar Rischa.

Adapun anak-anak yang diajar di wilayah binaan SEAD bervariasi. Di Medak berjumlah 11 orang dengan usia 7 hingga 10 tahun. Di Skaladi 12 anak, sedangkan Koto Boyo ada sekitar 17 anak. Bahkan kini, 8 anak SAD dari Medak, sekolah di Kota Jambi, dan tinggal bersama relawan di sekretariat SEAD di Jalan Belibis II, RT 59, No 40 Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

“Anak-anak ini sekolah di MTs, kelas 1 atau kelas 7. Kami sengaja kumpulkan mereka dalam satu sekolah dan satu kelas. Agar bisa saling mengontrol dan menjaga. Setiap hari, kami sewakan angkot untuk  menjempu dan mengantar mereka sekolah. Mereka sebelumnya ikut ujian Paket A di SKB Kota Jambi,” ujar Rischa.

Sebelum anak-anak itu menetap di sekretariat dan jauh dari orang tuanya. Relawan SEAD secara perlahan membawa anak-anak SAD ke luar permukiman mereka di sungai perjudian. Mulai dengan cara menemani membeli keperluan sehari-hari ke pasar Medak hingga disertakan dalam program pesiar.

 “Setiap dua bulan sekali. Kami adakan program pesiar, membawa anak-anak ke dalam kehidupan luar. Kami ajak berwisata ke tempat rekreasi, hingga mendatangi kantor Koramil, Kodim, kepolisian dan pemadam kebakaran,” ungkap Rischa.

Setelah mereka terbiasa dengan orang luar. Lambat laun mereka tergerak untuk beradaptasi dan lamban laun mau turut sekolah, jauh dari orang tua dan hidup dalam peradaban masyarakat. Bahkan, selain faktor orang tua yang memotivasi mereka. Ada anak yang berinisiatif dan meminta sendiri untuk sekolah di luar.

 “Saya takut-takuti anak kami agar tidak keluar. Tapi si Adi (salah satu anak yang sekolah di MTs) malah dia mengemas baju dan peralatan sekolah untuk bergabung dengan tujuh anak lainnya ke Kota Jambi,” ungkap Jauhari, yang sering bertanya perkembangan anak-anak yang bersekolah di luar.

Selain donasi pertamina. Untuk operasional dan membeli bahan makanan yang dibagikan kepada warga suku anak dalam. SEAD juga melakukan pencarian dana dengan berbagai program. Di antaranya dengan program “Garage Sale” mengumpulkan baju/barang bekas dari warga Kota Jambi lalu dijual di acara car free day, open donasi melalui Sosmed dengan cara memasang brosur himbauan donasi dalam instagram, facebook dan sosmed lainnya.

“Setiap dua minggu sekali kami menggelar Garage Sale. Hasil sekali jualan minimal mendapat Rp700 ribu hingga Rp1 juta. Bahkan pernah sekali jualam menembus Rp3 juta. Hasil itu kami belikan ubi, peralatan sekolah dan makanan yang akan dibagikan kepada SAD saat kami mendatangi mereka,” papar Rischa.

Selain program itu, kata Rischa, juga dilakukan dengan Celengan SEAD. Menyebar kaleng bekas dengan logo SEAD, bekerja sama dengan rumah makan dan perkantoran pemerintah. Bahkan kini tengah mencoba berjualan jual tootbag.

“Celengan itu sering disebar juga pada hari Jumat, sehingga kita namakan Jumat Berkah. Setiap Jumat sore kami kumpulkan dan didata untuk keperluan SAD,” tutur Rischa.

Memang SEAD hanya fokus dalam dunia pengajaran dan pendidikan Suku Anak Dalam. Namun ke depan relawan SEAD akan memberikan pelatihan keterampilan bagi warga SAD agar bisa mandiri secara ekonomi. Bersama Pertamina dan donasi lain untuk memikirkan kebutuhan lainnya, menggerakkan perekonomian SAD.

Sementara, kepala keluarga diajarkan budidaya ikan toman, dan para ibu dibekali dengan pengetahuan untuk membuat ikan asin yang dapat meningkatkan nilai jual. Ada sebuah tempat pengeringan ikan asin yang digunakan bergiliran oleh tiap keluarga. Saat alam lebih ramah, dan hasil tangkapan ikan melimpah, mereka dapat memproduksi hingga 20 kg ikan asin.

 “Kalau seperti sekarang, lagi sulit cari ikan. Ini 3kg tidak sampai,” kata Ci Uda, salah satu ibu di SAD, sambil menunjukkan ikan asin yang dibuat.

Sedangkan untuk menjaga keberlanjutan program pendidikan. SEAD setiap enam bulan sekali melakukan rekruitmen relawan atau open rekruitmen (oprek) secara profesional. Melalui tes dan pelatihan.

Awalnya, kata Nice Nurhayati - HRD SEAD, pendaftar itu semangat melihat foto dan kegiatan SEAD dari sosmed. Setiap periode Oprek, pendaftar selalu bertambah. Namun baru dua bulan pelatihan dan sekali menetap di wilayah binaan SAD, mereka tidak datang lagi dengan berbagai alasan. Menurut Nice, Oprek pertama bulan Juli 2017, diikuti 50 orang tersisa 10, Oprek kedua diikuti 100 orang tersisa 35 orang. Dan Oprek ketiga Januari 2019, diikuti 135 oran, tersisa hanya 45 orang.

 “Setiap rekruitmen selalu bertambah peminatnya. Namun sayang, menginjak dua bulan satu per satu mereka keluar. Tidak kuat menjalani hidup sebagai relawan. Sehingga setiap akhir Oprek, hanya tersisa sekitar 30 persen atau 20 hingga 30 orang,” ungkap Nice.

Bagi mereka yang tidak aktif. SEAD melakukan sanksi administrasi sebagaimana manajemen profesional. Mulai Surat Peringat Satu (SP1) hingga SP3. Sebelumnya para pendaftar juga menandatangani kontrak di atas materai 6000 guna menjaga hal yang akan merugikan SEAD kemudian hari.

 “Menjaga hal yang tidak memungkinkan, kami berikan tindakan sanksi tegas hingga mengeluarkan mereka. Karena kadang banyak juga pendaftar hanya ingin mendapat sertifikat dari SEAD saja, atau memanfaatkan SEAD untuk keperluan individu. Jika itu ketahuan, kami langsung pecat dari keanggotaan SEAD,” ujar Nice.

Agar relawan benar-benar tangguh. Setiap Oprek, tim SEAD selalu melakukan evaluasi dan perubahan metode. Mulai pendaftaran online hingga presentasi proposal setiap pendaftar. Syarat anggota relawan SEAD, salah satunya bersedia menginap atau menetap di hutan bersama warga SAD. Setelah lulus ujian/verifikasi administrasi, kata Nice, pendaftar lalu mengikuti sesi pelatihan. Selanjutnya harus melakukan pembinaan minimal enam kali selama enam bulan.

 “Rata-rata baru dua bulan, atau dua kali menginap di hutan, mereka tidak kuat. Dan biasanya, pendaftar yang lolos mengikuti enam kali terjun pembinaan, merekalah yang akhirnya menjadi relawan SEAD,” ujar Nice.

Menurut Nice, kegiatan SEAD telah menjadi perhatian anak-anak muda di Jambi. Karena, selain tertarik dengan kepeduliannya. Di mata mahasiswa dan anak-anak muda Jambi, relawan SEAD banyak yang berprestasi atau mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Seperti Reny mendapat beasiswa S2 di Belanda, Putri menjadi guru di komunitas Program Mengajar Indonesia, dan Rischa ikut dalam program pertukaran mahasiswa Indonesia-India.

 “Alhamdulillah, beberapa relawan SEAD mendapat penghargaan dan diakui oleh berbagai organisasi baik regional maupun internasional,” papar Nice, yang juga mahasiswa yang tengah menyelesaikan skripsinya di Universitas Jambi ini.

Jerih payah dan pengorbanan relawan SEAD sudah dirasakan oleh warga Suku Anak Dalam. Semula mereka tidak dapat membaca nominal uang, kini mulai mengenal nominal uang, sehingga tidak lagi ditipu saat transaksi jual beli di dusun. Anak-anaknya pun sudah bisa membaca dan menulis.

 “Alhamdulillah, berkat Pertamina kami dapat rumah sehingga kami tidak seperti dulu. Pindah pindah. Sedangkan dengan SEAD, kami mengenal peradaban baru, cara hidup bertetangga, kesehatan dan kebersihan, juga bisa membaca. Anak-anak kami pun bisa sekolah, hingga ke Kota Jambi,” ujar Jauhari.

Memang SEAD telah menjadi ikon anak muda Jambi yang sangat peduli bagi pendidikan bagi Suku Anak Dalam. Bagi SEAD, anak-anak Suku Anak Dalam memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan bermimpi layaknya anak-anak di kota.

 “Anak-anak ini belajar dan sekolah. Baca tulis. Kalau dulu nggak tahu apa-apa. Anak-anak ini kalau mereka mau, sekolah lah lebih tinggi di luar. Jangan kaya kita kan, nggak sekolah.” harap Jauhari.

Pendidikan Suku Anak Dalam, sejatinya bukan hanya dilakukan relawan SEAD saja. Sudah kewajiban pemerintah daerah provinsi dan pemerintah kabupaten, serta masyarakat lainnya untuk membantu kehidupan mereka, dan mengenalkan kepada peradaban baru. Apalagi sekarang suku anak dalam mulai terancam kehidupannya. Hutan tempat mereka tinggal dan berburu makanan sehari-hari sudah banyak ditebang dan dijadikan kebun sawit dan karet. Pemberdayaan Suku Anak Dalam yang terpenting dan mutlak yang harus menjadi perhatian semua pihak adalah pendampingan secara berkelanjutan. Tidak hanya pemerintah pusat, namun juga pemerintah daerah, LSM, Swasta, dan masyarakat sekitar. Karena masih banyak anak-anak SAD yang belum bisa membaca dan belum mendapatkan pendidikan. (*)

Bagikan :