Berita


Informasi

Literasi Bekal Generasi Emas Indonesia

08 Oct 2019

Indonesia pada tahun 2030, jumlah penduduk berusia 15-64 tahun diperkirakan mencapai 68 persen dari total jumlah penduduk yang mencapai 200 juta orang. Limpahan penduduk usia produktif ini disebut-sebut sebagai bonus demografi bagi Indonesia. Ini adalah peluang luar biasa bagi bangsa ini meraih kejayaan.

Namun, peluang tersebut tak serta merta menjadi berkah. Bila tak pandai mengolah, SDM yang digadang-gadang sebagai generasi emas tersebut tak akan pernah berkilau. Jangankan menjadi generasi pemenang, keberadaan mereka justru hanya menjadi “sampah” dan biang masalah. 

Untuk mengubah peluang tersebut menjadi berkah, perlu kerja keras dan cerdas dalam memersiapkan generasi muda saat ini. Ya, paling lambat sejak hari ini, anak-anak yang duduk di bangku kelas 1 SD mesti dipersiapkan dan dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan pada era yang disebut-sebut sebagai abad berlari tersebut. Pemerintah dan masyarakat harus berkolaborasi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan dan kebudayaan. Salah satu jalan dengan menggencarkan gerakan literasi. Upaya ini ditempuh melalui tiga jalur, yakni jalur formal melalui gerakan literasi sekolah, jalur masyarakat melalui gerakan literasi masyarakat, dan keluarga melalui gerakan literasi keluarga.

Literasi dipandang sebagai kemampuan dasar yang sangat penting dari segala pembelajaran. Tentu literasi yang dimaksud bukan sekadar membaca, melainkan memahami bacaan. Kemampuan tersebut berimplikasi luas pada pembelajaran di subyek-subyek lainnya, termasuk sains, teknologi, matematika, pendidikan karakter, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Pemahaman ini menjadi penunjuk bahwa literasi abad 21 mesti dipahami secara utuh dan mencakup berbagai aspek kehidupan. Literasi berkaitan erat terhadap akses informasi dan ilmu pengetahuan, proses pendidikan berkelanjutan, serta pembelajaran sepanjang hayat.

Pentingnya literasi juga ditegaskan dalam Forum Ekonomi Dunia tahun 2015, di Davos, Swiss. Pada forum tersebut disepakati bahwa di abad 21, setiap bangsa harus menguasai setidaknya tiga jenis keterampilan, yaitu pertama literasi dasar yang terdiri atas enam komponen yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, literasi budaya, dan literasi kewargaan.

Kedua, kompetensi yang meliputi kemampuan berpikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Dan ketiga, yaitu karakter yang meliputi; iman dan takwa, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan serta kesadaran sosial dan budaya. 

Literasi Bekal Generasi Emas Indonesia

Pentingnya literasi, sejatinya juga disadari betul oleh para pendiri bangsa. Awal kemerdekaan, Presiden Soekarno mencanangkan pemberantasan buta huruf melalui gerakan ‘Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf. Upaya ini terus berlanjut.

Gerakan yang melibatkan masyarakat ini berbuah manis. Di usianya yang ke-74 tahun, tingkat literasi Indonesia maju pesat. Kini, sebanyak 98 persen penduduk Indonesia sudah melek aksara, berbading terbalik dengan awal kemerdekaan.

Sebagai bagian dari upaya merawat komitmen meningkatkan budaya literasi di Tanah Air, pemerintah setiap tahunnya memperingati Hari Aksara Internasional (HAI). Hari Aksara Internasional ditetapkan melalui kongres yang diikuti oleh menteri pendidikan seluruh dunia pada tahin 1966 di Teheran, Iran. Pertemuan tersebut merupkan respons UNESCO terhadap kondisi dunia saat itu di mana 40 persen lebih penduduk dunia masih buta aksara.

Tahun ini HAI mengangkat tema “Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat”.  Tema ini untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap keberagaman Indonesia yang memiliki lebih dari 1.500 lebih suku bangsa dan lebih dari 1.000 bahasa daerah. Keberagaman ini merupakan aset bangsa Indonesia yang harus dipelihara dan dikembangkan sebagai wahana bersama dalam meningkatkan literasi masyarakat.

Berkaca pada sejarah Indonesia, para pendiri Republik yang berhasil mengantarkan Indonesia menjadi negara merdeka dan bermartabat, adalah orang-orang yang memiliki tingkat literasi sangat baik. Fakta tersebut membuktikan, tingkat literasi masyarakat yang baik, berkorelasi positif dengan kemajuan bangsa dan negara yang pada akhirnya akan mewarnai dan memberi makna pada peradaban manusia.

Gerakan Literasi yang saat ini dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat sejatinya merupakan upaya untuk mendidik manusia Indonesia agar dapat memahami literasi sebagai alat dasar untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Memiliki kesadaran untuk terus belajar demi menguasai kecakapan hidup yang baru untuk meningkatkan kualitas hidup. Mereka inilah yang bisa disebut sebagai generasi terdidik dan tercerahkan. Generasi emas yang akan mengantarkan Indonesia sebagai bangsa yang unggul.

Bagikan :