Berita


Informasi

Lala Bohang, Menggugah Ekspresi melalui Buku

08 Oct 2019

Orang tak jarang merasa terkungkung dan tak mampu mengekspresikan yang mereka rasakan. Padahal, menurut Lala Bohang, apa pun yang dirasakan harus mampu diekspresikan. Medium untuk mengekspresikan diri juga beragam, salah satunya adalah melalui medium buku. 

Keterbatasan dalam mengungkapkan apa yang dirasakan bisa jadi menjadi keseharian yang dihadapi banyak orang. Keterbatasan oleh banyak hal tentu saja, bisa karena lingkungan, persepsi, atau bahkan karena tidak adanya medium untuk mengungkapkannya.

“Mendapati kenyataan itu, bagi saya ada sesuatu yang harus dilakukan karena berekspresi atau mengungkapkan ekspresi dan apa yang dirasakan itu sangat positif,” ujar Lala Bohang.

Lala Bohang, Menggugah Ekspresi melalui Buku

Lala Bohang sendiri merupakan penulis buku ternama asal Kota Palu. Secara khusus, ia hadir membicarakan proyek buku sekaligus museum yang berjudul “The Forbidden Feelings”. Bagi Lala, buku merupakan teman kecil yang tidak terikat ruang dan waktu.

“Buku saya The Forbidden Feelings adalah perayaan hal-hal yang remeh-temeh, rasa yang tak seharusnya ada, dan hal-hal yang tak punya panggung untuk diekspresikan,” terang Lala Bohang.

Lebih jauh mengenai bukunya,  The Forbidden Feelings, Lala menjelaskan bermula dari proyek seni buku yang disisipi dengan ilustrasi-ilustrasi keren kreasinya sendiri yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Melalui buku tersebut, Lala berharap akan menginspirasi banyak orang untuk merasa tidak takut mengekspresikan sesuatu karena yang sebenarnya itu adalah hal  yang positif untuk di ekspresikan. Akhir September lalu, museum dengan nama serupa resmi diluncurkan dan menampilkan 72 objek personal dari publik di Qubicle Center, Jakarta Selatan.

Lala Bohang, Menggugah Ekspresi melalui Buku

“Apa jadinya jika seseorang merasakan hal-hal yang tidak seharusnya dimiliki? Seorang pria yang membeli boneka barbie, ibu rumah tangga yang menggunakan pil KB dan membuat emosionalnya jadi datar, atau benda peninggalan dari mantan kekasih yang disimpan sejak lama dan disembunyikan?” katanya.

Lala merupakan penulis buku sekaligus seniman visual lulusan arsitektur Universitas Parahyangan  Bandung. Ia Lahir  di  Makassar dan besar di Palu, Sulawesi Tengah.

Bagikan :