Berita


Informasi

Diskusi Daring Serambi Literasi Sesi 1: Gerakan Akar Rumput Terus Menggeliat

24 Jul 2020

Di tengah Pandemi Covid 19 yang mencerabut kebiasaan hidup umat manusia di seluruh duni,. gerakan akar rumput literasi, seperti Taman Bacaan Masyarakat terus menggeliat.

Direktur Jenderal PAUD Dikdas dan Dikmen Jumeri, S.TP., M.Si., yang baru dilantik, membuka sesi pertama Seri Diskusi Daring Bertajuk Serambi Literasi FLI 2020, Jumat 24 Juli 2020. Untuk pertama kalinya, ia bertemu para pegiat literasi dalam diskusi daring. Pada kesempatan ini Dirjen mengingatkan besarnya tantangan gerakan literasi yang harus dihadapi bersama.

“Meskipun zaman Majapahit telah berlalu, namun masih ada masyarakat Indonesia yang buta aksara,” ujarnya.

Baginya, permasalahan literasi harus berfokus peningkatan literasi masyarakat dengan mempertahankan kemampuan literasi masyarakat. Menurut Jumeri, kemampuan literasi akan berimplikasi pada kemampuan mengakses informasi, mengakses pembelajaran, mengakses potensi ekonomi, dan hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Ia berharap keterlibatan pegiat literasi dapat membantu masyarakat untuk melek aksara. Mendorong masyarakat agar menuntaskan pendidikannya melalui Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C yang juga berimplikasi terhadap peningkatan IPM.

“Hal terpenting ketika masyarakat dapat menyelesaikan pendidikannya, yakni dapat menghidupi dirinya, meningkatkan ekonomi keluarganya, menuntun hidupnya ke arah lebih baik,” pungkasnya.

Diskusi daring sesi pertama dengan tema “Kolaborasi Gerakan Literasi Masyarakat di Masa Pandemi Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru,” ini juga menghadirkan narasumber, Dr. Samto, Direktur PMPK, Ditjen PAUD Dikdas dan Dikmen. Ia menegaskan, FLI 2020 merupakan rangkaian panjang menuju puncak Hari Aksara Internasional.

Direktorat PMPK merancang peringatan Hari Aksara Internasional berdasarkan empat hal. Pertama, pendidikan untuk semua yang dikembangkan oleh UNESCO di mana pendidikan harus melayani semua warga negara tanpa terkecuali. Diselenggarakan secara inklusif dengan tidak membedakan kaya-miskin, desa-kota, dan masyarakat yang termarginalkan, membuka akses akses informasi yang setara dengan masyarakat di perkotaan/daerah dengan akses informasi yang tinggi.

Kedua, pendidikan berkelanjutan yang memperhatikan keberlangsungan kehidupan bangsa-bangsa di masa yang akan datang. Pengembangan pendidikan harus menyiapkan generasi berikut dengan memperhatikan anak-anak miskin. Pengelolaan alam dan seisinya harus dirawat dan disiapkan untuk kemakmuran generasi berikutnya. Pendidikan harus mengeksplorasi seluruh potensi untuk memberi landasan yang kuat agar generasi yang akan datang lebih makmur untuk memberdayakan diri mereka.

Ketiga, terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selama ini cukup mengkhawatirkan karena kemampuan adaptasi masyarakat yang berputar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi lupa bahwa harus memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemakmuran. Teknologi bukan sekadar sebagai alat, melainkan sebagai sumber daya untuk dikembangkan demi kemakmuran bangsa Indonesia.

Keempat, digitalisasi dan desentralisasi terkait perkembangan digital yang begitu melesat, telah melebihi kemampuan manusia untuk menyeseuaikan diri. Jadi, hanya manusia pembelajar yang mampu beradaptasi dengan teknologi.

“Pandemi memberi keuntungan untuk kita agar sadar teknologi, baik pembelajaran, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Pandemi menuntut kita untuk hidup lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi,” kata Direktur PMPK.

Bagikan :