Berita


Informasi

Berkorban untuk Peradaban

08 Oct 2019

Suku Anak Dalam (SAD) tersebar dan hidup di hutan dalam wilayah Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Kehidupan mereka di alam dan jauh dari kehidupan perkotaan membuat mereka tidak mengenal peradaban yang ada di luar hutan, tidak terkecuali pendidikan.

Meski menjadi kelompok terpinggirkan dan tinggal di dalam hutan. Semakin lama, mereka mendapat dampak dari perkembangan ‘dunia luar’. Tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada alam, harus ada upaya untuk melakukan perubahan cara berpikir dan pola hidup menjadi satu-satunya cara mereka untuk bisa bertahan hidup dengan layak.

Tahun 2017, Sekelompok anak muda Jambi yang tergabung dalam Sobat Eksplorasi Anak Dalam (SEAD) mulai tergerak untuk peduli terhadap pendidikan Suku Anak Dalam. SEAD Jambi merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan yang terbentuk pada tanggal 20 Maret 2017. Komunitas ini didirikan atas dasar keinginan untuk memberikan wadah bagi orang, khususnya anak muda dari berbagai kalangan yang ingin berkontribusi dan mendedikasikan waktu, tenaga serta pikirannya demi memajukan pendidikan dan kehidupan sosial warga Suku Anak Dalam di Jambi.

Berkorban untuk peradaban

SEAD Jambi didirikan oleh dua orang pemuda Jambi yang mempunyai keinginan yang sama yakni Reny Ayu Wulandari Alumni Pendidikan Matematika Universitas Jambi dan Mira Rizki Pardina Alumni Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya. SEAD sendiri memiliki fokus pada pemberantasan buta aksara khususnya bagi anak-anak SAD di pedalaman rimba Jambi.

Suku Anak Dalam tersebar di area hutan dalam kawasan Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Hidup jauh dari peradaban luar, membuat mereka sulit untuk didekati. Sehingga relawan SEAD baru memfokuskan kepada tiga wilayah SAD.

Selain karena sulitnya jangkauan dan kondisi alam. Tantangan lain adalah saat menetap atau menginap di dalam hutan bersama warga SAD. Nota bene masih banyak binatang yang berbahaya, seperti ular, babi hutan bahkan harimau.

Relawan SEAD memulai kiprah mengenalkan huruf dan angka kepada Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Skaladi, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. Bisa dikatakan bahwa Skaladi merupakan desa pertama yang menjadi desa binaan komunitas SEAD dalam melaksanakan misi pemberantasan buta aksara.

Kondisi masyarakat di Skaladi sendiri telah mengalami transisi adat istiadat. Mulai dari berpakaian, kondisi ekonomi dan infrastruktur bangunan rumah hampir sudah mengikuti dunia luar. Selain itu, jarak tempuh dari Kota Jambi menuju Desa Skaladi ditempuh dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah jam. Kondisi jalan menuju Desa Skaladi tidak terlalu ekstrim seperti kondisi jalan di desa binaan lainnya. Hanya saja, jika hujan kondisi jalan yang setengah berbatu tersebut berubah menjadi sedikit licin, ditambah kontur jalan yang menanjak tajam di beberapa bagian jalan. Dari segi ekonomi sendiri, warga SAD di Desa Skaladi menggantungkan hidup dari bertani karet dan sebagian bertahan hidup dari hasil buruh tani.

Pendidikan anak-anak SAD sangat kurang, karena letak pemukiman warga SAD Skaladi terbilang jauh dari sarana penunjang pendidikan. Bahkan hanya ada satu mushala. Sementara kondisi kesehatan, akses mereka cukup jauh. Untuk keperluan MCK, mereka masih mengandalkan sungai untuk aktifitas sanitasi.

Berkorban untuk Peradaban

Tantangan awal yang dihadapi pada Desa binaan Skaladi ini adalah jarak antara rumah anak binaan yang lumayan jauh dari lokasi pondok belajar, anak-anak juga masih tertutup. Sehingga diperlukan persuasif belajar dan relawan diharuskan menjemput anak-anak untuk mau belajar bersama. Pencapaian pembinaan Desa Skaladi, anak-anak SAD sudah sadar pentingnya belajar tanpa dijemput oleh relawan. SEAD menargetkan pada tahun 2020, anak-anak binaannya dapat mengikuti Ujian Paket A.

Selanjutnya, relawan SEAD menyasar pemberantasan buta aksara bagi anak-anak SAD yang berada Desa Kotoboyo, di Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Kotoboyo atau lebih tepatnya desa Hajran merupakan desa binaan kedua komunitas SEAD Jambi yang letaknya paling jauh di antara desa binaan lainnya. Jarak tempuh dari Kota Jambi menuju desa Hajran bisa memakan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan dengan menempuh jalan lintas Sumatera, kemudian dilanjutkan dengan melalui jembatan gantung yang menghubungkan jalan utama menuju jalan desa yang juga merupakan jalur lalu-lalang perusahaan batu bara. Jika musim hujan, jalan desa ini akan licin, sedang saat kemarau sangat berdebu.

Kondisi pendidikan SAD di Desa Kotoboyo masih sangat minim. Bahkan bisa dikatakan belum tersentuh sama sekali. Setelah mendapatkan arahan dari Temenggung Waris, salah seorang warga SAD yang sudah berbaur dan pembina. Akhirnya, relawan SEAD melakukan pembinaan dan telah berjalan selama satu tahun dan hasilnya pun sangat membanggakan, meski pembinaan hanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan karena alasan jarak dan waktu. Namun tidak disangka kemajuan anak-anak binaan sangatlah cepat dalam menerima pembelajaran mengenai baca-tulis dan berhitung.

Sedangkan kondisi orang tua SAD sangat memprihatinkan. Mereka bertahan hidup dari hasil hutan dan juga menjual apa saja yang bisa diuangkan dari hasil hutan tersebut. Terkadang tidak menentu juga hasil hutan yang mereka dapat. Jangankan untuk biaya sekolah, hasil penjualannya pun untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari saja tidak mencukupi.

Warga SAD Desa Hajran masih sangat asli sehingga mereka memang tidak ada yang memperhatikan untuk urusan kesehatan dan kebersihan mereka, dengan alasan jauhnya jarak tempuh menuju pemukiman yang mereka tempati. Tidak adanya sarana MCK yang memadai dan air sungai Serengam yang mulai tercemar makin memperburuk keadaan kesehatan mereka, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa Orang Rimba sangat menggantungkan hidup pada hutan. Sehingga tidak sedikit warga SAD Desa Hajran mengeluh berbagai penyakit. Mulai sakit gigi, demam, flu hingga gejala malaria.

Berkorban untuk Peradaban

Tantangan awal lainnya, selain jarak tempuh yang jauh. Dibanding wilayah binaan lain. Warga SAD di Kotoboyo masih sangat primitif, tertutup dengan dunia luar. Sehingga Desa binaan Kotoboyo ini adalah sulitnya berinteraksi dengan warga Suku Anak Dalam Koto Boyo karena mereka menjaga jarak dengan orang luar dan memiliki kepercayaan serta adat istiadat yang kuat. Sehingga menjadi tantangan sendiri bagi relawan untuk memulai berkomunikasi.Namun seiring berjalannya waktu, warga SAD Kotoboyo bisa menerima kedatangan relawan SEAD dan memahami maksud kedatangannya.

Pencapaian desa binaan Kotoboyo saat ini adalah sudah memiliki Pondok Belajar dan sudah difasilitasi atas kerja sama dengan Universitas Jambi, anak-anak dan orang tua SAD Desa Hajran sudah mulai mengerti baca tulis dan tidak canggung lagi untuk belajar bersama. Target SEAD ke depannya yaitu menjalin kerja sama dengan  PT PLN Jambi yang akan membuatkan sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Selanjutnya wilayah binaan relawan SEAD adalah warga Suku Anak Dalam di Batin Sembilan yang bermukim di Sungai Pejudian, di dalam hutan di Provinsi Sumatera Selatan. Warga SAD di wilayah desa Muara Medak ini, sekali berkomunikasi dengan warga luar untuk sekedar menjual ikan dan madu.

Warga SAD ini berkelompok, hidup di kawasan eks-hutan gambut perbatasan Jambi-Sumatera Selatan. Warga SAD ini merupakan desa ketiga yang menjadi desa binaan komunitas Sobat Eksplorasi Anak Dalam (SEAD) Jambi.

Kondisi desa tersebut sangatlah jauh berbeda dari desa binaan lainnya, bisa dibilang desa Medak adalah desa dengan pemandangan tersendiri saat kita tempuh untuk bertemu dengan adik-adik yang ada di sana.

Bagikan :